Surajaya Tak Seangker Dulu


 Surajaya pernah menjadi sebuah nama yang ditakuti. Bagi setiap tim tamu yang datang, stadion di jantung kota Lamongan itu bukan sekadar lapangan hijau, melainkan sebuah lautan biru yang menggema dengan teriakan La Mania. Setiap dentuman drum, setiap kibaran bendera, setiap nyanyian suporter, adalah badai yang membuat lutut lawan bergetar sebelum kaki mereka menginjak rumput.

Namun, sore tadi, Surajaya tampak berbeda. Di laga kandang pertama musim ini, Persela harus menundukkan kepala setelah kalah dari tamunya, Deltras Sidoarjo. Kekalahan itu terasa lebih berat bukan karena skor semata, melainkan karena sejarah yang seakan berbalik arah. Dulu, lawan yang pulang dari Lamongan hampir selalu membawa luka. Kini, mereka justru membawa senyum.

Apakah Surajaya benar-benar kehilangan angkernya? Ataukah Persela sedang tersesat dalam jalan panjang yang penuh ujian?

Pertanyaan itu menggantung di udara. La Mania, yang masih setia berdiri di tribun, mencoba menutup luka dengan nyanyian. Tapi jauh di dalam hati, mereka tahu: rumah yang dulu menjadi benteng kokoh kini mulai keropos. Bukan karena tribun yang retak, melainkan karena spirit di lapangan tak lagi menyala seperti dulu.

Namun, sejarah selalu memberi ruang untuk kebangkitan. Surajaya bukan sekadar stadion—ia adalah saksi dari air mata, tawa, dan doa ribuan jiwa. Jika hari ini ia tak lagi menakutkan, mungkin hanya karena Persela tengah mencari kembali jati dirinya. Sama seperti bara api yang terkubur abu, selalu ada kemungkinan api itu akan menyala lagi.

Kekalahan ini harusnya menjadi tamparan, bukan tanda menyerah. Karena Surajaya pernah ditakuti bukan semata-mata oleh megahnya tribun, tetapi oleh semangat para pemain yang bertarung habis-habisan demi lambang di dada. Dan selama La Mania masih ada, selalu ada harapan bahwa Surajaya akan kembali bergemuruh, kembali berwibawa, kembali menjadi neraka bagi tim lawan.

Hari ini kita mungkin berkata: Stadion Surajaya tak seangker dulu.
Tapi suatu saat, jika Persela menemukan kembali nyalanya, kita bisa berkata dengan bangga: Surajaya kembali jadi rumah yang menakutkan.

HARIAN PERSELA

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar